Tuesday, March 13, 2007

Dialog imajiner dengan Gajah Mada

Dialog imajiner antara penulis, Imung Murtiyoso (IM) dengan Mahapatih Gajah Mada (GM) merupakan bentuk imajinasi penulis melihat keadaan bangsa ini beberapa tahun belakangan. Berikut petikannya:


IM : Nyuwun sewu patih, mungkin saya mengganggu istirahat patih.

GM : Oh ndak, ada perlu apa sampeyan, mungkin ada yang bisa saya bantu.

IM : Anu patih, saya mau tanya kenapa di bumi nusantara ini bencana kok tidak pernah habis-habisnya, padahal seperti patih ketahui, penduduk nusantara ini semuanya beragama, ramah-tamah, murah senyum dan banyak lagi kebaikan lainnya?

GM : Betul, semua yang sampeyan sebutkan adalah benar adanya. Tapi kalau kebaikan disandingkan dengan kemaksiatan jadinya ndak ada manfaat, malah merusak. Misal, pergi ke tempat ibadah rajin, korupsi juga jalan terus, bersedekah rajin, tapi mencuri juga nggak telat. Akhirnya kebaikan bercampur dengan kejahatan. Lha ini kan kontradiktif.

IM : Benar patih, saya juga sependapat, mental para birokrat di nusantara memang sudah bobrok.

GM : Ndak itu saja, coba sampeyan lihat, beras subsidi yang seharusnya diberikan buat masyarakat miskin, eh ... ndak tahunya ditimbun, disembunyikan oleh cukong-cukong agar di kemudian hari bisa dijual lebih mahal lagi. Wah apa ini ndak memancing amarah Tuhan.

IM :
Tapi patih, nusantara dari dulu kan sudah 'gemah ripah loh jinawi', tapi kenapa rakyatnya susah dapat beras, minyak tanah. Kok seperti 'tikus mati di lumbung padi'. Apa ada yang salah patih?


GM : Memang dari dulu sudah salah, sekarang coba sampeyan perhatikan, kenapa lahan sawah yang seharusnya buat menanam padi, sudah berubah jadi perumahan, mal, pom bensin atau rumah makan. Para pejabat di nusantara banyak yang ABS, 'asal bapak senang'. Mereka berandai-andai bahwa tahun ini akan berswasembada beras, kita akan panen raya. Nyatanya malah impor beras. Betul ndak?

IM :
Betul sekali patih, sebagai orang awam saya sendiri bingung dengan kelakuan mereka itu.


GM :
Ndak.. ndak usah bingung, biar yang bingung para pejabatnya saja. Mereka kan bingung mau melakukan apa. Bingung mau bohong apa lagi. Bingung cari-cari alasan. Bingung karena disumpah-serapahi oleh jutaan orang di nusantara. Jadi sampeyan ndak usahlah bingung.


IM : Iya patih, semoga saya tidak bingung. Bolehkah saya mengajukan satu pertanyaan lagi patih?

GM :
Boleh, tapi jangan panjang-panjang, saya kuatir nanti sampeyan bingung lagi.


IM : Begini patih, nusantara kok nggak sejaya dan seberani seperti zaman patih dahulu, dulu patih bisa menguasai dan menyatukan seluruh nusantara. Konon Kamboja dan Siam yang letaknya jauh sekalipun sempat patih kuasai. Tapi negeri-negeri kecil seperti Tamasek dan Melaka sekarang sudah berani mengusik harga diri nusantara. Mereka berani masuk ke wilayah nusantara tanpa izin dan ujung-ujungnya mengklaim sebagai wilayah mereka. Ada yang ngambil pasir sesuka hatinya buat memperluas negaranya. Itu bagaimana patih?

GM :
Wah kalau ini agak sulit menjawabnya, kalau dulu sewaktu saya masih menjadi panglima kerajaan Majapahit, setiap negeri yang ingin memberontak atau menyerang Majapahit saya taklukan dulu. Ya.. kalau menurut perdana menteri John Howard namanya 'pre-emptive strike'. Biasalah gaya preman, pukul dulu... urusan belakangan.


IM :
Tapi bukankah itu melanggar kedaulatan sebuah negeri?


GM : Kalau ndak mau melanggar wilayah negeri lain, saya usulkan kepada pemerintahan sampeyen, agar menembak setiap pesawat atau kapal yang coba-coba masuk ke wilayah nusantara. Cuma masalahnya apakah panglima nusantara 'berani dan tega' melakukannya.

IM : Betul patih, kenapa nusantara yang besar kok yang mau-maunya dilecehkan sama negeri-negeri itu. Padahal seperti usul patih, dewan rakyat udah setuju supaya pesawat atau kapal yang masuk agar ditembak saja. Tapi usul ini ditolak menteri pertahanan dan panglima. Saya jadi bingung.

GM :
Tuh kan sampeyan bingung lagi...
(Imung Murtiyoso, Maret 2007, photo by wiki)

No comments: