Kembali ke... becak!
Musibah beruntun yang menimpa seluruh moda transportasi di negeri ini kayaknya sudah komplet banget deh ...Bukan apa-apa, jadi takut naik kendaraan. Coba aja bayangin, hampir tiap minggu ada aja musibah bergiliran, hari ini kereta api, besok kapal laut, besok lagi pesawat udara. Excluding tanah longsor, gempa bumi dan banjir.
Saya juga nggak tahu kenapa musibah itu kok ya... hobi banget ngunjungin di segala waktu. Pas kita lagi enak tidur malam sambil sarungan datang tanah longsor. Banjir masuk ke rumah saat kita lagi sarapan. Pokoknya bencana datang tanpa ngasih kabar.
Sekarang kita mau kemana-mana serba takut, di rumah sendiri juga takut. Alhasil kita jadi masyarakat penakut. Padahal kalau dipikir bencana yang datang itu kan yang ngundang kita sendiri. Nggak percaya? Tanya hutan-hutan yang udah plontos, tolong tanyain juga KM Senopati atau AdamAir.
Memang sih, segala sesuatunya takdir dari Tuhan YME, namun karena andil manusia juga yang membuat Tuhan marah, sehingga segala bencana mudah sekali menghampiri kita. Apalagi doa-doa tak lagi mustajab. Lho kok doa bisa nggak dikabulkan? Gimana doa mau dikabulkan, kita rajin salat, tapi korupsi juga nggak pernah malas, bersahabat dengan maksiat, nggak bersahabat sama alam.
Ya untuk sementara waktu baiknya kita nggak usah kemana-mana dulu aja deh. Kita introspeksi lagi apakah kemarin-kemarin kita banyak salah (wuih... kayak ustadz nih). Jangan dulu berpergian dengan pesawat udara, kapal laut, atau kereta api. (kalau KRL Jabotabek boleh...).
Jadi gimana dong. Untuk menyenangkan keluarga khususnya anak-anak baiknya kita lupakan dulu naik pesawat, kapal laut atau kereta. Kita kembali ke... becak. Tapi kan di Jakarta udah bebas becak.
Kalo gitu naik KRL Jabotabek atau Busway. Ah nggak ah .. saya sih senengnya naik becak, abis banyak kenangannya. Emang iya sih, becak udah bagian sejarah Jakarta, sudah menyatu sama masyarakat. Saya sendiri masih percaya separuh warga ibukota masih cinta becak. Iya nggak? Hidup becak! (Imung Murtiyoso, Maret 2007)



1 comment:
Nggak demen becak
Post a Comment