Pasar Baru atawa Passer Baroe
Beruntung saya termasuk yang lumayan akrab dengan lingkungan Pasar Baru, karena saban hari selama sembilan tahun bolak-balik ke kawasan yang punya sejarah panjang itu.Mas emang kerja di toko apa? Bukan, saya bukan pegawai salah satu department store disitu, tapi kebetulan kantor saya letaknya berdekatan dengan pusat perbelanjaan yang dibangun pada 1860 pada masa pemerintahan VOC.
Tahun 1989 pertama kali saya menjejakkan kaki di daerah yang banyak dijejali bangunan-bangunan tua bersejarah itu. Suasana masih semrawut, maklum saja, pengunjung boleh memarkir mobil di sepanjang wilayah pertokoan. Mulai pintu masuk dari Jl. Pos Utara (jembatan masuk) sampai tembus ke Jl. Samanhudi.
Jadi kalau pas hari minggu atau libur, bisa dipastikan suasana macet, bising dan berpolusi. Kini kawasan itu sudah tertata rapi, sepanjang koridor pertokoan dipasangi canopi, agar pengunjung semakin nyaman.
Lahan parkir di sepanjang Jl. Antara juga ditata teratur melalui pendestrian. Hanya saja pihak pengelola atau Pemda DKI tidak menyediakan lahan parkir yang representatif. Posisi lahan parkir yang memanjang, membuat pengunjung yang datang siang hari akan semakin ke arah Stasiun KA Juanda yang otomatis jauh banget dari pintu masuk "Passer Baroe".
Buat pihak yang berkompeten, Pemda DKI/BP Perpakiran ada baiknya dibuat lahan parkir diatas Kali Ciliwung --dengan catatan Pemda DKI sementara waktu mengabaikan rencana transportasi air-- sehingga selain menampung lebih banyak kendaraan juga tidak mengganggu aktivitas keluar-masuk aktivitas kantor-kantor yang ada di sepanjang Jl. Antara.
Walaupun banyak bertebaran pusat-pusat perbelanjaan di ibukota, nyatanya Pasar Baru masih mempunyai pengunjung fanatik. "Untuk sepatu, Pasar Baru masih yang terbaik," kata teman beberapa waktu lalu. Memang Pasar Baru identik dengan toko Sepatu. Ada pameo dari warga Jakarta tentang hal ini "baju boleh beli di mal, tapi kalau sepatu carinya di Pasar Baru". Toko sepatu yang kesohor --kalau nggak salah-- Lim Seng Lie.
Cari makan di Pasar Baru nggak susah. Banyak tempat buat mengganjal perut. Rupa-rupa makan tersedia, dari pecel lele, masakan Padang sampai chinesse food. Ada bakmi Gg Kelinci yang udah kondang, atau untuk kelas rakyatnya datang saja ke mie ayam Poseng, dinamain Poseng karena letaknya menjorok di gang Poseng. Kalau jam makan siang, susah sekali dapat duduk disini. Ada juga bakery .. waduh namanya lupa tuh.
Mau makan ala rumahan, ikuti jalan kecil disebelah Toko Bata, disitu ada beberapa tempat makan prasmanan, rasa enak dengan harga murah. Warkop 24 jam juga ada, tempatnya di depan Gedung Antara.
Dulu saya menghabiskan waktu sembari cuci mata di tempat ini ini. Penjualnya mang Endi, sekarang diteruskan anak-anaknya. Konon bapaknya mang Endi yang pertama berjualan disini. Jadi dari kakek sampai cucu.
Oh ya.. kalau pas ulang tahun Jakarta, tiap tahunnya diadakan Festival Passer Baroe. Acaranya meriah banget. Pemda DKI sengaja membuat festival tahunan ini, tujuannya kembali menaikkan gengsi Pasar Baru sebagai tempat belanja bersejarah.
Maklum belakangan ini banyak menjamur mal-mal ataupun town squares yang hanya membuat ibukota makin sempit. Oh ya ... Ada usul buat warga Jakarta, tanpa bermaksud menggurui, pls deh try to visit Passer Baroe with family or someone.
Tujuan awal jangan belanja dulu, niat aja plesiran ke kota tua sembari mengenang Jakarta tempoe doeloe. Apa nggak bosen sih ngeliat mal yang isinya kayak gitu-gitu aja. Mending ke Pasar Baru, belanja sambil belajar. Karena kalau nggak gitu Passer Baroe cuma jadi bagian sejarah Jakarta doang. (Imung Murtiyoso, Maret 2007)



No comments:
Post a Comment