Monday, January 7, 2008

PSP, jadul namun berkelas


Jadul tapi berkelas. Itulah kesan pertama gue terhadap kelompok Pancaran Sinar Petromaks (PSP). Meski jadul, tapi keberadaan dan kesuksesan mereka sampai sekarang belum tergantikan.

PSP yang lahir konon pada 21 Juni 1978 dibentuk oleh well-educated personnel, Monos (gitar, vocal), Rijali (mandolin, vocal), Andra (marakas), Dindin (tamborin), James (bass), Omen (okulele, vocal), Aditya (gendang II), Ade (gendang I), dan Eddy (flute). Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa asal Universitas Indonesia (UI).

PSP melahirkan sebuah sub-genre musik baru, dangdut plesetan. Sebuah aliran musik yang 'memporak-porandakan' pakem bermusik. Sebuah kerja kreatif yang justru menjadikan dangdut bisa dinikmati oleh lintas-usia.

Contohnya, bagaimana single My Bonnie yang merupakan lagu asli rakyat Skotlandia diplesetkan PSP menjadi sebuah tembang dangdut. Atau lagu Kidung milik kelompok Pahama tak terkecuali habis dijaili oleh mereka.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada seniman dangdut tanah air lainnya, ternyata PSP-pun sudah ambil bagian mempromosikan musik dangdut ke kampus-kampus. Musik dangdut yang selama ini diimagekan sebagai musik kaum marjinal, di tangan PSP menjadi musik "kaum sekolahan".

Meski sudah hampir 30 tahun nggak nongol lagi, namun lagu-lagu mereka masih banyak dikenang sama orang-orang seumuran gue. Orang-orang yang umurnya 35 tahun keatas. Buat yang lahir tahun 80-an ke atas gue jamin nggak bakalan kenal siapa tuh PSP. Iya nggak?

Gue sendiri mulai kenal PSP waktu kelas empat SD tahun tahun 1978. Saat PSP pertama kalinya muncul di 'kotak ajaib' pada ulang tahun TVRI tahun 1978.

Selesai manggung malam itu di stasiun siaran milik pemerintah itu, paginya masyarakat riuh-rendah ngobrolin PSP. Di kantor, di sekolah, di warung. Lagu macam Ogah Ah, Kidung, Gaya Mahasiswa well-known banget sama anak-anak Jakarta.


Tapi kalo gue denger lagu Fatime sama Dendang PSP, gue punya kenangan buruk nih ...

Ceritanya begini (based on true story), di RT gue anak-anak SD seumuran (kelas IV/V) banyak banget. Tiap malam minggu, biasanya kita sering main orkes sambil melancong atawa cari perhatian cewek-cewek di RT tetangga.


Maklum RT tetangga stok ceweknya lumayan banyak dan cakep-cakep. Istilahnya halaman rumah tetangga lebih ijo dari rumah sendiri. Salah satunya PN (sori cuman inisial doang). Walau ada beberapa cewek lagi tapi PN yang paling manis. Rencananya malam ini kita mau konser di rumah PN, primadona RT tetangga.

Malam minggu ba'da maghrib anak-anak udah siap sama semua perangkat 'lenong'nya, Yadi pada gitar, Wawan pada gendang, Idris pada bass... betot, dan Hendra pada kecrekan. Sisanya: gue, Indra, Udin cuman bagian teprok tangan doang. Oh ya.. kelompok orkes kita namain 'Ankodu'.

Jreng... Fatime dijadiin lagu pembuka. Meski suara gitar dan gendang nggak kompak, namun bisa ditutupi sama suara teprokan tangan. Alhasil tembang Fatime diselesaikan tepat waktu. Selesai Fatime dilanjutin Dendang PSP.

Belum Dendang PSP selesai, tiba-tiba seseorang nyiramin air dari rumah yang halaman depannya dijadiin tempat ngorkes (di seberang rumah PN). Untungnya nggak pada basah kuyup, karena siraman airnya terhalang pager rumah. Dasar aja anak-anak pada bangor, bukannya pergi malah nerusin nyanyinya.

Nggak lama kedengeran kletek, bunyi pintu pager dibuka. Dari tempat gue dan temen-teman manggung, sekonyong-konyong seseorang berlari ke arah kita-kita sambil tangannya megangin pipi. Gue samar-samar sempet liat pipinya ditempelin koyo. Keliatannya tuh orang lagi sakit gigi.

Tanpa aba-aba lagi, gue and gangs langsung pada ngibrit. Ternyata orang itu terus mengejar. Sampai masuk ke wilayah RT kita. Nasib sial dialami Yadi, ia ketangkep dan digamparin. Karena dia dianggap ketuanya. Tapi emang betul sih... Yadi ketuanya :)

Gue sendiri selamet, tapi nyungsep ke aspal, karena lari kelewat kenceng jadinya badan nggak seimbang. Baju robek, tangan lecet-lecet. Untungnya tuh orang nggak ngeliat gue jatuh. Kalau liat, nasib gue nggak beda sama Yadi. Bakalan ditampolin. He... he...

Besoknya di sekolahan --kebetulan semuanya satu sekolahan-- kita pada ngakak semuanya inget kejadian semalem. Yadi yang kena tampol juga masih sempet cengengesan. Ngomong-ngomong PN --yang juga satu sekolahan-- tau nggak ya kejadian semalem. Mudah-mudahan sih dia nggak tau.

FYI friends, orang yang nguber-nguber kita semalem ternyata berinisial Y. Kabar terakhir sekarang Y udah jadi pejabat di Departemen Keuangan. Maaf pak Y, kami sudah mengganggu 'kenyamanan' sakit anda.

Lagu Dendang PSP yang awalnya buat menarik perhatian PN, ternyata jadi 'kontra-produktif'. Maksud hati 'carmuk' sama PN, eh... malah diuber-uber sama pak Y yang lagi sakit gigi. Nasib... nasib.

Meski kejadiannya sudah hampir 30 tahun lewat, tapi 'kenangan manis' gue sama temen-teman nggak gampang dilupain. Bukan masalah tampolannya, tapi Dendang PSP dan Fatime-nya yang sampai sekarang terus terkenang.

Thus, terlepas dari pengalaman gue tiga dasawarsa silam, patutlah gue pribadi --mungkin juga teman-teman Ankodu-- menempatkan PSP sebagai pioner orkes melayu plesetan. Orkes moral yang bercita rasa tinggi. Yang jadul namun tetap catchy dan berkelas. (Imung Murtiyoso, Januari 2008, photo by http://orkesmoralpsp.multiply.com/)

No comments: