Monday, December 31, 2007

Melempar kail, menguji kesabaran


Ada banyak cara untuk melatih kesabaran. Di Jakarta sendiri sangatlah mudah mengukur tingkat kesabaran seseorang. Bisa dilihat mulai dari antre minyak tanah, antre tiket transportasi umum, dan kedisiplinan berlalu lintas. Hal-hal tersebut bisa dijadikan parameter kesebaran warga ibukota.


Umumnya kesabaran penduduk yang tinggal di kota-kota besar sangat rendah. Pameo "Orang Sabar Disayang Tuhan" acapkali disingkirkan. Contohnya, bagaimana seseorang daripada harus antre berjam-jam maka dengan mudahnya menggadaikan "kesabarannya" kepada calo tiket. Atau para riders yang dengan santainya "ngeluruk massal" ke jalur khusus busway dengan alasan macet.

Kasus-kasus tersebut adalah contoh manusia yang kesabaran hatinya tertinggal di rumah. Di luar rumah adalah belantara yang berlaku hukum rimba. Siapa kuat dia menang. Sekarang sukar sekali membedakan mental antara pengemudi metromini, bajaj, mikrolet dengan pengendara motor/mobil pribadi yang notabene orang-orang kantoran. 11-12 alias Undispliner!

Saya tidak bermaksud menyamaratakan bahwa semua pengguna jalan di Jakarta tidak berdisiplin. Hanya memberi gambaran bahwa ada sebagian warga Jakarta yang tingkat kesabarannya sudah meluntur.

Baiklah, saya tidak lagi 'meracau' tentang tingkat kesabaran warga kota besar. Mungkin beritanya hampir tiap hari muncul di surat-surat kabar. Jadi nggak perlulah saya 'sok tahu' tentang hal ini.

Ada pengalaman saya tentang ujian kesabaran. Tapi ditilik dari sudut hobi lho. Memang ada hobi yang berguna melatih kesabaran seseorang? Ada dong. Itu memancing. Hobi yang sekaligus olahraga.

Minggu lalu, ada lomba mancing di Sawangan, Depok. Nah, saya termasuk peserta yang terdaftar untuk ambil bagian guna memeriahkan HUT ke-61 Perum ANTARA, sebuah BUMN termuda yang disahkan pada pertengahan 2007 lalu. Kegiatan ini diadakan oleh sejumlah karyawan ANTARA yang berdomisili di seputaran Depok dan Bogor.

Sumpeh deh, seumur-umur baru kali ini ngikutin lomba memancing. Semuanya serba bingung. Bingung pegang joran, pegang reel, bingung melempar mata kail. Apalagi saya datang ke tempat lomba tanpa 'most needed equipments' seperti joran, korang atau umpan. Dengan kata lain cuma ehem... modal dengkul.

Tapi, untungnya. Sekali lagi untungnya banyak kawan yang bermurah hati menawarkan perlengkapan buat mancing. Joran dipinjamkan oleh bapak Dedi, umpan dibuatkan rekan Sudjana, korang (jaring ikan) disiapkan oleh bung Eri. Bahkan, untuk minum, snak dan rokok, panitia sudah menyiapkan dengan begitu lengkap. Makasih ya.. buat panitia. You all did it well !

Daftar ulang dan pengundian lokasi lapak langsung ditentukan saat peserta mulai datang. Kebetulan lapak saya bersebelahan dengan Cang Wak atawa Riswandi --yang jam terbang mancingnya lumayan banyak-- dan bung Eri yang udah kali kedua mengikuti lomba mancing ini.

Tepat jam 10.00 Wib, Direktur Utama Perum ANTARA, Bapak Ahmad Mukhlis Yusuf didampingi ketua lomba Majuni Syair membuka lomba mancing yang memperebutkan piala bergilir pimpinan tertinggi instansi ini.

Buat panitia, kedatangan seorang dirut adalah hal yang membanggakan. Salah seorang panitia, Sudjana sempat berkomentar bahwa baru kali ini seorang puncak pimpinan hadir untuk membuka secara resmi lomba mancing tahunan ini.

Dua untuk selamanya

Awal memancing saya malah menjadi bahan tertawaan rekan lainnya. Umpan yang nggak bisa dilempar. Ternyata reel belum dibuka. Sekalinya bisa, umpan bukan jatuh ke tengah kolam, malah jatuh diatap lapak. Huh... capek deh...

Justru di menit-menit awal, saya sukse menanggok dua ekor ikan emas. Riswandi yang lebih profesional malah heran dengan 'kebolehan' saya pagi itu. Dua ekor dalam waktu 10 menit. Hasil yang membanggakan buat pemula seperti saya.

Tapi kelihatannya rejeki saya hari itu cuma dua ikan aja kali ya... Peserta lainnya berkali-kali kailnya tersangkut di mulut ikan. Sementara kail saya setelah nyangkut di mulut ikan kedua, nggak pernah lagi 'dicolek', padahal konon ikan yang dilepas ke kolam sebanyak dua kuintal.

Bayangkan sejak jam 10 pagi sampai saat makan siang jam 12.30, nggak ada lagi ikan meminati umpan saya. Asal tahu aja umpan saya ini khusus dibuat oleh Sudjana yang namanya begitu 'harum' di jagat permancingan, karena seringnya menjuarai lomba memancing di wilayah Sawangan.

Lima menit umpan nggak disenggol ikan, saya paling nggak betah dan gelisah. Daripada 'tersiksa' ngeliatin pelampung, lebih baik jalan-jalan atau cari teman ngobrol. Buat rekan yang terbiasa memancing, hal-hal yang saya lakukan diatas dianggap sesuatu yang 'tabu'.

Terus terang inilah momen yang paling membosankan, dimana saya tak berdaya saat diuji kesabaran. I'm sick of this situation.

Mereka yang biasa mancing, berjam-jam terpaku diam sambil tak berkedip memandang pelampung bukanlah sesuatu yang menyiksa. What an enjoyable day. Untuk menjaga 'kekusyuan' umumnya mereka mewajibkan adanya rokok dan kopi. Nggak ada tuh yang jalan-jalan atau ngobrol. Paling break pas mau buang air doang.

Saya pribadi nggak (baca: belum) pernah berminat sama olah raga yang namanya mancing ini, sebab saya pikir para penikmat hobi tersebut cuma buang-buang waktu. Bayangkan mulai pagi sampai sore nggak beranjak dari lapak, sepanjang hari tersandera oleh gerakan pelampung.

Namun ada pelajaran yang bisa diambil dari kaum pemacing ini. Sisi kesabaran yang patut diancungi jempol. Terus terang saya nggak bisa seperti mereka. Karena saat pertama mereka melempar kail, dari situ kesabaran mulai diuji.

Saya nggak tahu apa dua ekor ikan yang saya dapat dalam 10 menit tadi hanya buat menguji kesabaran atau membuat saya 'adiktif' memancing. Tapi yang jelas, memancing belumlah menjadi hobi favorit saya. But for anually event, it's ok lah.

Kalo begitu memancing adalah satu kegiatan yang menguji tingkat kesabaran pesertanya. Kesabaran menatap, kesabaran berkonsetrasi dan kesabaran menahan kantuk. Dan saya belum bisa melakukan semua itu.

Jadi kesimpulannya saya termasuk orang yang nggak sabar dong? Mudah-mudahan nggak... lah, buat hal-hal lain saya usahakan bersabar. Tapi saya bisa menjadi orang yang nggak sabar kalau harus melototin pelampung. (Imung Murtiyoso, Desember 2007)

Monday, November 26, 2007

Ada apa dengan jiran kita?


Makin hari makin aneh saja memperhatikan kelakuan Malaysia yang makin serampangan mengklaim beberapa aset budaya Indonesia sebagai milik mereka.


Setelah sukses 'menewaskan' Indonesia melalui keputusan mahkamah internasional yang memenangkan kepemilikan atas pulau Sipadan dan Ligitan, ambisi jiran itu makin tak terkendali.

Berbekal keberhasilan kasus Sipadan-Ligitan, Malaysia pun mulai coba-coba mengakui pulau Ambalat sebagai bagian dari wilayahnya. Namun untuk kasus ini, pemerintah Indonesia sudah bisa membaca gelagat dari negara yang mengaku satu rumpun tersebut. Syukur Ambalat masih bagian sah NKRI.

Ternyata kegagalan menguasai daratan Ambalat, tak membuat mereka kapok. Banyak jalan menuju Roma pikirnya, maka banyak cara buat menaklukan Indonesia. Yang paling gampang adalah aneksasi budaya.

Melalui gimik "Budaya Nusantara" kementerian kebudayaan dan pariwisata setempat menjadikan lagu "Rasa Sayange` sebagai jingle untuk promosi pariwisata negeri itu. Lagu rakyat Maluku ini bisa-bisanya diklaim sebagai sebuah karya mereka. Pengakuan sepihak itu membuat rakyat Indonesia tersinggung.

Alasannya, karena Malaysia termasuk merasa bagian dari wilayah Nusantara, maka budaya yang ada di Indonesia, merupakan milik mereka juga. Nah dengan begitu, tari Kecak, karapan sapi, burung cendrawasih dan hasil budaya Indonesia lainnya akan diakui menjadi budayanya pula. Lha wong mereka mengaku bagian dari nusantara. Boleh aja ngaku bagian Nusantara, tapi harus jadi provinsi NKRI yang ke-34 dulu.

Namun seperti dilansir myRMnews, pemerintah Malaysia akhirnya menyerah soal polemik lagu Rasa Sayange. Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Rais Yatim telah bertemu dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Dalam pertemuan itu, jiran mengakui lagu Rasa Sayange sebagai lagu asli Indonesia.

Apakah persoalan sudah selesai? Ternyata belum.

Gagal klaim atas Rasa Sayange, mereka secara ngawur mengklaim Reog Ponorogo sebagai miliknya. Klaim ini lebih ngawur lagi! Mana mungkin sebuah kesenian yang sudah berusia ratusan tahun tiba-tiba dijumpai pula di negeri yang letaknya ribuan kilometer dari daerah asalnya.

Antara Jawa Barat dan Jawa Tengah yang letaknya sangat berdekatan, memiliki seni dan budaya yang berbeda. Lha ini sebuah negeri di semenanjung, tanpa dasar sejarah mengklaim seni reog sebagai warisan budayanya. Kalau Malaysia mengaku reog adalah budaya asli melayu, mestinya di Riau --yang notabene pusat budaya melayu-- harusnya juga ada masyarakatnya yang bermain reog.

Seorang budayawan asal Ponorogo, Drs Sutejo, MHum mengemukakan bahwa pengakuan kesenian Reog oleh negeri jiran itu sangat lemah karena faktanya, secara nasional maupun internasional seni itu sudah diakui berasal dari Ponorogo, Jatim.

"Sederhana saja, coba cari tokoh-tokoh Reog di negeri jiran itu, paling-paling tidak ada. Kalau toh ada, mungkin mereka asalnya orang Jawa juga asal Ponorogo," katanya seperti dikutip ANTARA News di Surabaya, beberapa waktu lalu.

Ada benarnya pendapat budayawan Drs Sutejo karena imigran dari Indonesia, khususnya dari Jawa sudah ada di negeri itu konon sejak 1930-an. Sehingga secara tidak langsung mereka masih melestarikan seni dan budaya leluhur di perantauan. Kemungkinan dari sinilah budaya tanah air diakui oleh Malaysia.

Contoh bijak adalah para imigran asal Jawa yang bermukim di Suriname, meskipun sudah beberapa generasi bermukim di sana, namun budaya Jawa macam wayang kulit, keroncong, ludruk ataupun ketoprak tetap mereka lestarikan. Tapi pemerintah Suriname tidak pernah mengklaim bahwa seni budaya tersebut berasal dari Suriname.

Kesenian barongsai yang berasal dari Cina sudah dimainkan di Singapura sejak bertahun-tahun lalu, tapi Singapura tidak mengakui itu budaya mereka. Atau karate sudah masuk ke Indonesia sejak lama, namun tidak serta-merta karate diakui milik Indonesia.


Harusnya pemerintah Malaysia melakukan cek dan ricek dahulu sebelumnya mengakui sebuah seni atau budaya. Ini budaya asli miliknya atau milik tetangganya. Walaupun bentuk kesenian itu sudah ada bertahun-tahun di negeri mereka, tapi bukan otomatis mereka dapat mengklaim seenaknya.

Krisis identitas

Kasus-kasus ini merupakan dampak kemajuan ekonomi yang dialami negara jiran itu. Beberapa proyek prestisius (baca: mubazir) dibangun di Kuala Lumpur. Ada Petronas Tower, Sirkuit F1 Sepang dan terakhir mengirimkan "angkasawan" bersama kosmonot Rusia.

Namun sayang sekali, kemajuan itu tidak diimbangi dengan menampilkan kejayaan budaya negeri sendiri. Program kunjungan wisata 2007 yang ditawarkan justru menampilkan sisi budaya yang bukan asli mereka. Lagu Rasa Sayange, dan Barongan (reong) adalah contohnya.


Bangsa Malaysia yang --lagi-lagi konon-- terkenal santun dan agamis, tampaknya mulai khawatir akan eksistensi budaya dan jatidirinya sebagai sebuah bangsa, sehingga untuk "meramaikan" khasanah budayanya, diklaim-lah budaya tetangganya. Ironisnya yang dicomot justru nggak ada korelasinya dengan adat-istiadat melayu semenanjung.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Bulan Bintang, Yusron Ihza Mahendra menyatakan, krisis percaya diri sebagai bangsa kini melanda Malaysia, yang mendorong munculnya kebiasaan mencaplok budaya orang lain, terutama dari Indonesia.

"Kebiasaan mereka mencaplok budaya RI, apakah itu hasil kreasi pakaian (batik), musik (angklung), makanan, dan kemudian lagu-lagu, bahkan daratan (pulau), merupakan gejala kejiwaan yang mencerminkan krisis percaya diri sebagai bangsa," ujarnya kepada ANTARA News.

Ia mengatakan itu, menanggapi informasi tentang diklaimnya lagi `Burung Kakatua` sebagai lagu rakyat warisan budaya jiran, menyusul hal sama berlaku untuk `Rasa Sayange`.

"Kebiasaan tidak beretika ini, sekaligus mencederai budaya Melayu yang seharusnya sopan santun dan berakhlak tinggi," kata Yusron Ihza Mahendra yang masih berdarah Melayu dari wilayah Provinsi Bangka Belitung ini.

Mungkin gejala kejiwaan ini yang sekarang diidap tak kurang dari tiga juta warga Malaysia, sehingga mereka sudah tidak bisa lagi membedakan mana milik sendiri mana milik orang lain. Gejala kejiwaan ini dikenal dengan kleptorus homoklepto. (Imung Murtiyoso, November 2007)

Tuesday, November 6, 2007

Communication Breakdown

Judul tulisan ini memang sama persis dengan judul lagu yang dipunyai supergroup Led Zeppelin, Communication Breakdown. Lagu yang terdapat di album Led Zeppelin I itu menceritakan pemuda yang nervous menghadapi seorang gadis, sehingga komunikasi keduanya menjadi nggak jalan.

Tapi ntar dulu, saya nggak mau cerita hal-ikhwal tentang perjalanan grup asal Birmingham, Inggris Raya tersebut. Semua orang tahu kehebatan the magnificent four, Jimmy Page, Robert Plant, John Paul Jones dan John Bonham di era 1970-1980.

Namun judul communication breakdown sangatlah relevan dengan suasana di tempat saya kerja saat ini. Entah kenapa tiba-tiba komunikasi di divisi ini mendadak stuck.

Kalau lirik yang dibuat Page, Jones dan Bonham menceritakan tentang hubungan dua anak manusia yang nggak bisa nyambung, kalau di sini --di ruangan saya-- ceritanya menjadi lebih spesifik dan menarik. Inter-personnel relation break down.

Gejala mulai tampak awal 2007, tatkala gonjang-ganjing antara dua divisi layanan publik siap di-regrouping, direncanakan hasil dari merger bisa dioperasikan awal 2008. Dengan performance yang sama sekali baru. Etos kerja, visi dan misi, logo, reward and punishment system, serta personel (sebagian) direncanakan baru dan gress. Yang nggak siap dengan perubahan ini dipersilakan balik kanan maju-jalan alias mundur.

Lha itu kan bagus? Making progress namanya! Betul saya pribadi sangat senang dan setuju dengan rencana tersebut. Apalagi dengan perubahan status di lembaga ini, yang mengharuskan setiap insan di dalamnya mau dan harus bersikap profesional.

Jadi apanya yang breakdown dong? Kalau menurut saya ya... semuanya. Mulai dari manajer sampai ke bawahannya. Komunikasinya nggak jalan. Ada yang tersumbat. Our throats are clogged up.

Saya berusaha fair, bahwa ini merupakan a collective fault, kesalahan bersama. Semua personel disini sedang dijangkiti sebuah penyakit, jaim syndrome (sindrom jaga imej). Saya yang tadinya bersikap moderat, lambat-laun akhirnya mengikuti atmosfir yang nggak kondusif ini.

Harusnya kondisi kayak begini jangan terlalu lama di'antepin' kata orang Betawi. Tapi bagaimana caranya untuk mencairkan dinginnya ruangan ini? Ah... kalau saya sih... gampang aja. Sepanjang hari paling nyibukin diri sama kerjaan sambil nyumpel kuping dengerin Megadeth, System of A Down, plus nomor 80-an: a-Ha, atau Duran-Duran. It's simply the best.

Yang lainnya? Idem Ditto. Sami mawon. Punya kesibukan masing-masing.

Suasana lumayan cair, paling pas mau makan siang. Biasanya suasana hening akan rada meriah, kalau ada yang ngomong, "Ada yang mau titip makan siang nggak?" Pas jam makan siang biasanya saya malas keluar kantor jadinya minta tolong dibungkusin aja. Ha... ha... ha...

Buat dong suasana yang nyaman dan happy jangan kayak orang yang pada baru kenal aja. Caranya? Pendapat pribadi saya, di ruangan ini kan pasti ada chairperson yang bertanggungjawab. Akan lebih elok-nya jika penanggungjawab (manajer atau asmen) mau mengorbankan sedikit waktunya untuk berakrab-ria. Paling lama sepuluh menit.

Saya pikir acara tegur-sapa ini nggak akan mengurangi kewibawaan seorang kepala atau para bawahan kok. Bahkan hal ini akan memompa semangat kerja dan kreativitas semua personel. Yang dengan sendirinya akan terbentuk sebuah sinergi antara bawahan dan atasan. Sebuah Simbiosis Mutualisma.

Maka akan menjadi sangat wajib hukumnya bila suatu komunitas yang didalamnya berkumpul beberapa orang memanjangkan tali silaturahmi. Karena ini sama pentingnya seperti hubungan kekerabatan dengan keluarga atau saudara.


Nggak ada yang dirugikan dan diuntungkan. Asal rukun dan ikhlas seperti bunyi sebuah falsafah Jawa, Rukun Agawe Sentosa. Rukun menjadikan sejahtera. Maka akan sangat disayangkan bila divisi yang cuma dihuni oleh beberapa gelintir orang saja harus terlempar memasuki fase communication breakdown.

Bukan apa-apa, maksud tulisan pribadi saya ini adalah buat kebaikan semuanya. Cos, komunitas ini dibentuk bukan untuk satu-dua tahun. Tapi sepanjang masih dalam kerangka teamwork dan menjadi rekan kerja. Selama itu pulalah kita saling memerlukan.

Oh begitu... ternyata mencairkan suasana kerja itu tidak sulit. Kuncinya ya.. itu tadi, saling membutuhkan dan melengkapi. Jadi kalau begitu tak perlu lagi communication breakdown di-request . Whotta Lotta Love kayaknya lebih bagus deh!
(Imung Murtiyoso, November 2007)


Friday, October 26, 2007

Pak Asro yang saya kenal

"Assalamualaikum", tiba-tiba seorang lelaki berkemeja putih, dibalut jas warna gelap dan tas kulit hitam tergantung di pundaknya seraya tersenyum datang menyambangi ruangan JIO yang dingin pagi itu.

Ia bergegas menjulurkan tangannya kepada saya, dan tiga rekan lainnya yang kebetulan sudah bergulat dengan kerjaan rutin sehari-hari. "Saya Asro, mohon saya dibantu," begitu katanya seraya memperkenalkan dirinya.

Ternyata beliau Asro Kamal Rokan, pemimpin LKBN ANTARA yang baru. Kaget juga kami waktu itu, bagaimana seorang pemimpin umum sempat-sempatnya mengunjungi bawahannya, mungkin juga level yang terbawah dalam struktur di lembaga ini hanya untuk berkenalan dan memohon restu.

Mestinya bisa saja ia mengundang atau mengumpulkan seluruh karyawannya dalam suatu auditorium yang dimiliki lembaga ini tanpa harus "membuang-buang waktu" menemui seluruh anak buahnya. At the first sight, yang saya lihat adalah kesederhanaanya. Tapi auk ah gelap, saya pikir mungkin itu cara beliau mencari simpati bawahannya.

Tak terasa waktu terus bergulir. Setiap kebetulan saya berjumpa dengan Pak Asro, sampai kini ada yang tidak berubah dalam dirinya. Murah senyum dan selalu mendahului mengulurkan tangannya untuk berjabatan.

Beliau tidak pernah menunjukkan bahwa dirinya orang nomor satu di lembaga ini. Tidak minta disalami atau disapa dahulu, bahkan kepada seorang office boy-pun. Dalam hal berpakaian pun Pak Asro tidak berubah, lebih menyukai batik atau berjas tanpa berdasi ala Mahmoud Ahmadinedjad.

Keiklhasannya pun kembali teruji, saat lembaga ini berubah status menjadi Perusahaan Umum (Perum). Berkali-kali dirinya ditawari oleh Meneg BUMN untuk kembali menakhodai lembaga pemberitaan bersejarah ini.

"Saya lebih baik menjadi wartawan dan menulis saja," ucapnya saat upacara sertijab beberapa waktu lalu. "Lembaga ini kedepannya harus cari banyak uang, jadi biar para profesional saja yang menjalankan Perum ini," tambah beliau.

Pak Asro dapat mengukur dirinya. He's not a good money maker, he's just a journalist. Pak Asro mungkin takut terkena hadits Rasulullah SAW, "sesuatu perkara yang diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancuran". Maka ia pun mempercayakan pada ahlinya, kepada profesional yang juga seorang konsultan: Ahmad Mukhlis Yusuf sebagai direktur utama.

Pada resonansi sebuah terbitan ibukota pertengahan Oktober dalam satu alinea beliau menceritakan bahwa dompetnya terjatuh saat mobilnya terjebak macet di Ciawi Bogor, hari kedua lebaran kemarin.

Dia menganggap ini takdir Allah SWT. Mungkin saya kurang beramal, tulisnya tanpa menyerapahi pengambil atau penemu dompetnya. Terbukti beberapa hari kemudian dompet beliau dikembalikan oleh penemunya tanpa isinya ada yang hilang.

Sebuah pelajaran dapat dipetik bahwa keikhlasan membuat hati menjadi tenang. Kalaupun ada yang hilang maka itu adalah takdir dan bukan rejeki kita dan Allah SWT pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Saya mengenal Pak Asro bukan sebagai teman, kerabat atau punya hubungan keluarga. Perkenalan seorang bawahan kepada pemimpinnya.

Perjuangannya yang begitu besar juga membuat saya kagum akan keberanian lelaki kelahiran Medan ini. Pak Asro bukan tipe orang yang duduk di belakang meja, bukan orang yang mudah menyerah untuk berjuang demi kemajuan dan kelangsungan hidup lembaga ini.

Salah satu usaha besarnya adalah dengan terbitnya Peraturan Presiden tentang perubahan status lembaga menjadi Perum. "Kita tidak bisa berjuang tanpa status yang jelas, itu modal kita" katanya suatu waktu.

Ada satu kerja besar yang belum tercapai adalah mengambilalih Wisma Antara ini. "Ini jihad kita, kalaupun saya tidak menjadi pemimpin lagi, pengganti saya harus bisa meneruskan cita-cita saya," tambahnya.

Dalam sambutannya pada acara sertijab dari dirinya kepada pemimpin yang baru, Pak Asro masih menyuntikkan semangat kerja. Lengsernya beliau dari tampuk tertinggi di lembaga ini tidak membuat dirinya berkeluh-kesah atau mengalami post-power syndrome.

Menurutnya, jabatan adalah amanah yang sewaktu-waktu bisa dicabut oleh Sang Pemberi Amanah.
Bahkan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Sungguh sebuah pelajaran teladan dan keikhlasan hati dari seorang yang amanah.

Dalam diri Pak Asro tidak ada yang berubah, sederhana dan rendah hati. Sama seperti yang ia tunjukkan dua tahun lalu saat pertama kali datang memperkenalkan diri dan menyalami kami. (Imung Murtiyoso, Oktober 2007)

Friday, September 14, 2007

A blessing of Ramadhan: nominee on the MH Thamrin journalism award


Sehari sebelum Ramadhan, tepatnya tanggal 12 September 2007, PWI Jaya bekerjasama dengan Pemrov DKI Jakarta menyelenggarakan sebuah acara bertajuk 'Anugerah Jurnalistik Mohammad Husni Thamrin tahun 2006/07' yang diadakan di Balai Agung, Pemrov DKI Jakarta.


Para petinggi ibukota negara turut hadir. Ada Gubernur Sutiyoso, Wagub Fauzi Bowo, Ketua DPRD DKI Ade Supriatna, dan yang punya acara tentunya Ketua PWI Jaya, Kamsul Hasan. Para wartawan senior juga hadir.

Lalu apa relevansinya dengan saya? Ceritanya begini, sebulan lalu, Pak Akhmad Kusaeni, Wapempelred Umum Perum ANTARA tiba-tiba menelepon saya memberitahukan bahwa tulisan saya yang berjudul, Sampah, 'Spesies Baru' Suaka Margasatwa Muara Angke (lihat arsip Februari 2007) masuk menjadi nominator dalam lomba anugerah jurnalistik yang diadakan tiap tahun tersebut.

Pak Akhmad Kusaeni meminta saya agar segera mengirimkan biografi beserta foto close-
up ke panitia melalui sekretariat redaksi. Maka atas pertolongan dan jasa baik ibu Farida akhirnya persyaratan yang diminta panitia segera dipenuhi. Ibu Ida, thaks a lot for helping me.

Anugerah Jurnalistik Mohammad Husni Thamrin diberikan pada karya-karya jurnalistik terbaik yang diterbitkan oleh media massa yang bercerita tentang ibukota Jakarta. Adapun katagorinya adalah, tajuk rencana, artikel pelayanan publik, artikel umum, fotografi dan karikatur yang disiarkan dalam rentang waktu 1 Juni 2006 sampai 31 Mei 2007.

Dari ANTARA sendiri, selain saya ada Maryati, reporter di desk Kesra yang menurunkan tulisan berjudul 'Warga Condet Biarkan Dirinya Tergilas Arus'. Kalau rekan Maryati memang seorang jurnalis andal, beberapa tulisannya pernah menyabet penghargaan, bahkan untuk tingkat nasional.

Khusus untuk artikel saya bersaing dengan empat nominee lainnya. Harian Kompas dan Suara Pembaruan diwakili masing-masing dua orang. Bukannya minder, nggak habis pikir juga kenapa tulisan saya tersebut bisa bersanding dengan mereka yang 'jam terbang'-nya jauh diatas rata-rata.

Cuma ada satu pemenang dari tiap-tiap katagori, sehingga keseluruhannya ada lima pemenang dan selebihnya para nominator. Pemenang katagori artikel layanan publik --dimana tulisan saya disertakan-- direbut harian Suara Pembaruan dan berhak atas tropi dan satu unit sepeda motor. Untuk para nominator diberikan kenang-kenangan berupa micro-system dari sponsor sebuah perusahaan elektronik. It's a miracle of Ramadhan!

Buat saya, posisi nominator adalah suatu kebanggaan, karena hasil karya saya dapat disejajarkan dengan tulisan dari rekan-rekan media cetak ibukota yang beroplag diatas 100 ribu eksemplar. Disamping itu juga mewakili dan membawa harum institusi dimana saya bekerja, Perum ANTARA.

Last but not least, tak lupa saya ucapkan terima kasih buat, Bapak Akhmad Kusaeni, Bapak Ismet Rauf dan Mas Theo Yusuf atas dukungannya. Mudah-mudahan tahun depan akan ada lagi tulisan saya yang menjadi nominee. The Gentlemen, could you teach me how to be a good writer? (Imung Murtiyoso, September 2007)

Wednesday, September 12, 2007

Happy Ramadhan



Kami dan keluarga mengucapkan,

SeLaMaT MeNjAlAnKaN IbAdAh PuAsA RaMaDhAN 1428 H

semoga puasa kita diterima Allah SWT. Amien


Tuesday, September 11, 2007

KuMpUl SeDuLuR


Kumpul sedulur atau ngumpul bersama saudara-saudara yang seumuran kayaknya bakalan jadi acara seru neeh. Disamping memperat silaturahmi juga menjadi ajang reuni ex-Menteng Pulo occupants. Apaan lagi tuh...

Menteng Pulo occupants adalah permukiman warga yang letaknya hanya sejengkalan dengan tempat pemakaman umum (TPU) Menteng Pulo. Membentang mulai dari Menteng Atas, Menteng Pulo, Menteng Dalam, Pedurenan, dan Gelanggang Sumantri Brodjonegoro, Kuningan. (Betul nggak nih... tolong dong diralat)

Termasuk gue juga penghuni di sekitar kawasan pemakaman Menteng Pulo. Walapun di KTP masuknya Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet (wuihh... keren banget man), tapi karena mepet sama kuburan, hasilnya tetap aja disebut Menteng Pulo. Tapi nggak soal mau Menteng Pulo atawa Menteng Dalam, yang penting di akte kelahiran terketik kota Jakarta Selatan sebagai tempat lahir.

Kumpul sedulur atau bahasa kerennya family gathering yang diadain di Wisma Seruni, Cisarua, Bogor bulan kemarin (11/12 Agustus) adalah acara buat ngumpulin anak-anak dari pihak bapak-bapak kita yang kini tinggalnya berserakan di seantero Jabodetabek.

Gue sendiri sebenarnya bukan authentic member dari paguyuban ini, namun karena kedekatan emosional dan geografis dengan seluruh anggota dan ketuanya akhirnya ya... gue sekeluarga Alhamdulillah diundang. Free of charge lagi.

Pemberangkatan dengan bus dari Margonda, Depok jam tujuh pagi. Ditetapkannya Margonda sebagai start point, karena disini di Margonda ada pakde (uwak) atau sesepuh. Jadinya buat anggota yang tinggalnya di Tangerang atau Bekasi ngumpulnya mesti disini.

Buat keluarga gue yang dapat bye terpaksa pagi-pagi buta udah meluncur ke Depok. Nggak enak dong, udah diundang gratis masak mau datang telat. Bisa-bisa digerendengin sama yang lain. Ha.. ha.. ha...

Pagi jam 05.30 udah berangkat dari rumah. Udara masih segar dan nggak ada macet. Maklum juga pas tanggal merah jadi banyak warga Jakarta yang tidur sampai siang. Perjalanan ke Depok lancar banget, cuma 45 menit udah sampai di Margonda. Longok sana-sini, kok belom ada yang ngeriung di pinggir jalan. Jangankan orang-orangnya, bus-nya pun juga belon keliatan teronggok di pinggir jalan.

Daripada bengong berdiri di pinggir jalan akhirnya kita tunggu aja di rumah pakde yang rumahnya nggak jauh dari situ. Kan lumayan bisa istirahat dan minum teh hangat. Itung-itung sekalian silaturahmi. Maklum biasanya kalo datang kesini paling-paling pas lebaran doang. Huih... dasar bocah bader.

Kebetulan nggak lama, nongol tuh Tommi Priyono sama keluarganya, satu-satu pemuda di paguyuban ini yang udah hampir 20 tahunan tinggal di Los Angeles. Jadi ada yang bisa diajak ngobrol. Sejak Tommi mendarat di Indonesia, gue ketemuan sama dia baru dua kali.

Tapi nggak lama yang lainnya juga datang satu-satu, hasilnya cuman 15 menit udah pada ngumpul semuanya. Project officer, Om Basuki juga udah keliatan batang hidungnya. Om Bas, demikian panggilannya segera memerintahkan agar semua peserta naik ke bus yang sudah disediain. Kalo diitung-itung sih semuanya ada 15 kepala keluarga.

Macet? Itu sih biasa

Bus diberangkatkan pada jam delapan telat satu jam dari jadwal jam tujuh. Keluar Margonda jalan udah mulai macet, padahal hari masih pagi. Menjelang keluar pintu tol Ciawi luar biasa macetnya.

Berpuluh-puluh bus dengan tujuan sama menutupi hampir seluruh ruas pintu tol. Ini merupakan efek dari dua hari libur, menstimulasi orang untuk pergi ke luar kota, dan biasanya daerah yang dipilih adalah kawasan puncak.

Di dalam bus, dua peserta dewasa terlihat mulai mabuk darat. Yang tak lazim justru terjadi pada anak-anak. Mereka satupun nggak ada yang teler. Semua masih ceria. Untungnya, nah ini ada untungnya, dalam rombongan terselip peserta yang berprofesi sebagai bidan. Jadinya... nggak bakalan kuatir, sebab ibu bidan siap merawat peserta yang mabuk.

Setelah tersiksa kemacetan panjang, akhirnya sampai juga di lokasi. Di sebuah vila tiga lantai yang letaknya meninggi sehingga udara lebih sejuk dan paromananya pasti ciamik. Lumayan sejenak melupakan ingar-bingar kota Jakarta.

Sore hari deputy officer project, Edi Purwanto mengumumkan pergelaran perlombaan buat anak-anak. Ada lomba membawa kelereng dalam sendok, mecahin balon dan lomba mindahin bendera. Buat orang tua juga ada, lomba ngipasin balon?!?!?! Maksudnya balon didorong pake kipas mulai dari garis star sampai finish geetuu.

Masalahnya kan balon nggak gampang diatur, semakin didorong bukan maju malah terbang kemana-mana. Teorinya gampang, tapi pelaksanaannya susah banget. Coba aja deh.. kalo nggak percaya.

Menjelang maghrib perlombaan selesai. Semua menang. Semua dapat hadiah. Pembagian hadiah dan se-plastik snack rata ke semua anak-anak. Sore ini suasana tidak menyiratkan pasca-perlombaan, lebih tepat menghadiri acara ulang tahun anak-anak. He... he... he...

Merangkak malam, udah ada yang mulai berkaraoke, meski suaranya pas-pasan banget, tapi keberanian malu menyanyi para ibu-ibu boleh diacungi jempol. Senandung dangdut jadi pilihan, disamping Indonesian old numbers yang bikin mata justru tambah ngantuk.

Tembang 'Mandul' milik bang haji Rhoma Irama masih mengalun dari kerongkongan ibu Tommi Priyono alias mbak Tati yang langsung ditimpali ibu-ibu lainnya. Meski enggak muda lagi, tapi itu loh... semangatnya, greengg!

Di bagian lain, asap yang keluar dari tempat pemanggangan ikan sudah mulai mengepul. Ada empat orang yang bertugas di sini, dengan super chef Mulyana sebagai ketuanya. Sementara di tempat lainnya ada yang dari sore nggak berhenti main bola sodok.

Kebetulan meja biliar lokasinya dekat sama yang bakar ikan, jadinya ikan-ikan yang baru mateng udah pada dicolekin sama sambel kecap [baca:dimakanin]. Padahal dari dalam ruangan udah pada gelisah nanyain ikan bakar. Gimana mau dibawain, baru mateng satu aja udah diembat sama yang pada main biliar. ihhh... kayak kucing garong deh.

Ikan berkilo-kilo yang dibawa dari Jakarta tandas juga diembat kucing garong... wow maaf sama segenap peserta malam itu. Jatah buat kucing beneran juga nggak disisain sedikitpun. Kenapa ikan bakarnya cepat habis. Ya abis enak sih... karena olahan dan racikan sang chef Mulyana.

Jam 01.30 dinihari semua acara kelar digelar. Semua udah mulai penat, letih dan mengantuk. Tinggal beberapa jam buat istirahat bekal pulang besok. Terima kasih dan salut untuk semua sedulur yang menyempatkan waktunya buat ngumpul disini di acara Kumpul Sedulur. (Imung Murtiyoso, September 2007)

Wednesday, September 5, 2007

Ki Nartosabdo, sang troubadour

Mungkin tidak ada orang Jawa yang tidak mengenal sosok Ki Nartosabdo, pun masyarakat Jawa yang kini menetap di berbagai belahan dunia pasti mengenal seniman besar yang ikut mewarnai sejarah budaya Jawa tersebut.

Sebagai orang yang terlahir di tengah hiruk-pikuknya the Rolling Stones, saya memang belum mengetahui beliau secara utuh dan mendalam.

Saat usia yang hampir mendekati 40 tahun dan isi otak sudah 100% contaminated bermacam budaya, saya justru semakin menikmati gendhing-gendhing kreasi dari seniman asal Desa Krangkungan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten ini.

'Persinggungan' dengan Ki Nartosabdo dimulai saat bapak saya hampir setiap hari selalu memperdengarkan gendhing-gendhing beliau, baik m
elalui radio atau kaset, sehingga mau tidak mau saya yang waktu itu masih duduk di bangku SD terpaksa harus menikmati 'genre Ki Nartosabdan' (gendhing-gendhing yang diciptakan oleh Ki Nartosabdo).

Boleh jadi saya terkena falsafah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Gimana nggak tresno, wong tiap hari dicekoki jenis musik yang kini diakui dunia melalui World Heritage-UNESCO.

Tidak hanya gendhing-gendhingnya, bapak saya juga seorang penikmat gaya mendalang yang dipertontonkan oleh Ki Nartosabdo, entah cara sabetannya atau cengkok suaranya. Hampir tiap minggu saya 'disuguhi' berbagai lakon wayang kulit. Karena itu, saya pun hafal nama tokoh dan karakter dari dunia pewayangan tersebut. Apalagi jika sudah masuk sekuel goro-goro.

Goro-goro ini merupakan babak dalam pagelaran wayang yang ditandai dengan kemunculan para punakawan. Atau kemunculan ibu dan anak, limbuk-cangik. Disini penonton disuguhi humor yang ger-ger-an.

Bapak saya pernah bercerita, Ki Nartosabdo adalah seorang seniman yang belum ada tandingannya. Ia bukan saja menghibur, tetapi juga memeberikan nasihat-nasihat melalui lakon-lakon wayang kulit yang dibawakannya.

Lagu-lagu Ki Nartosabdo banyak memuat nasihat
, filosofi dan pelajaran hidup. Tak heran bila Bung Karno menjadikan Ki Nartosabdo sebagai dalang kesayangannya. Meski menganut gagrak Surakarta, Ki Nartosabdo tidak melulu fanatik dengan gaya tersebut.

Dalam setiap pementasannya, Ki Nartosabdo tidak jarang membawakan gagrak Yogyakarta atau Banyumasan. Saat memainkan lakon Kresna Duta di RRI Jakarta, 28 April 1958, Ki Narto mengkombinasikan dua gaya yang "berseteru" itu.

Disamping itu 319 gendhing yang sudah ia ciptakan, sehingga sampai kini karyanya masih mendapat tempat di hati para pencintanya. Secara kualitaspun belum ada yang mampu memyamainya. Karena memang karya-karyanya enak didengar dan easy listening.

Sembilan kendang

Contoh dalam lagu Swara Suling. Ki Nartosabdo memainkan lagu itu dengan sembilan kendang sekaligus dan tiga tambur, sehingga suara kendang mendominasi lagu tersebut. Cara memukul kendangpun menggunakan ibu jari. Sampai-sampai Swara Suling yang dimainkan oleh dalang siapapun dalam pementasan wayang kulit, tembang itu "sepersis" mungkin dimainkan seperti aslinya.


Gendhing-gendhing ciptaan Ki Nartosabdo lainnya yang cukup populer seperti, Praon atau perahu
layar yang banyak dinyanyikan artis dangdut, Lumbung Desa, Lesung Jumenglung, Saputangan, Ojo Lamis, Ojo Dipleroki dan masih banyak lagi.

Ki Nartosabdo lahir pada 25 Agustus 1925 dengan nama kecil Sunarto. Dia bungsu dari delapan bersaudara pasangan Partotanayo, seorang pengrawit, dan Madiah, seorang mranggi atau pembuat rangka keris.

Sunarto kecil yang berusia 11 tahun telah mampu memainkan ricikan rebab, kendang, dan gender. Pada 1940 dia bergabung dengan grup ketoprak Budi Langen Wanodya.
Dia bertahan dua tahun dalam kelompok itu.

Pada 1945 dia menjadi pemain kendang pada grup Sri Wandawa sebelum bergabung dengan Ngesti Pandawa pimpinan Sastrasabda. Lelaki itulah yang memberi nama Nartosabdo pada 1950. Tahun itu pula dia menikah dengan Tumini dan memiliki seorang anak bernama Jarot Sabdono.


Pendidikan formal Sunarto hanya sampai kelas IV Standar School Muhammadiyah di Wedi. Keterampilan sebagai dalang wayang kulit diperoleh secara otodidak dan belajar pada beberapa dalang ternama seperti Ki Gitocarito dari Sukoharjo yang bermukim di Semarang.

Selain itu dia juga belajar mendalang pada Ki Pujosumarto dan Ki Wignyo Sutarno. Dari guru yang disebut terakhir itu, Ki Nartosabdo belajar banyak mengenai dramatika pewayangan.

Pada era 1950 sampai 1970, jadat karawitan Jawa memiliki tiga komposer yang hebat dan saling mengisi, yakni Tjakrawarsita, RL Martopangrawit dan Ki Nartosabdo. Sebenarnya ada satu lagi komposer yang segenerasi namun kurang begitu terkenal, RC Hardjo Subroto.

Kalau dahulu saya sempat nggak mudeng dengan lagu-lagu beliau, sekarang saya berusaha menyempatkan waktu --walau seminggu sekali-- untuk mendengarkannya. Meski menggunakan bahasa Jawa, saya lumayan mengerti walau bingung jika menemukan bahasa tinggi khas priyayi, krama inggil.

Genjer-genjer

Salah satu lagu ciptaan Ki Nartosabdo yang menimbulkan kontroversi adalah Genjer-genjer. Di zaman Orde Baru lagu ini menjadi sangat "haram" dinyanyikan. Lagu yang selalu dihubungkan dengan pergerakan partai komunis Indonesia yang sampai kini pun belum ada kejelasan dimana dari syair lagu yang berlawanan dengan rezim saat itu.

Menurut Ki Manteb Sudarsono seperti dikutip Suara Merdeka, lagu ciptaan almarhum dalang Ki Nartosabdo itu sama sekali tak memuat syair atau kata-kata yang mengeritik pemerintah, ataupun memuat ajaran komunis di dalamnya.

"Silakan diperiksa lirik lagunya, apakah ada kata-kata yang mengkritik pemerintah, ataupun ada ajaran komunis yang sengaja diselipkan di dalamnya," kata Ki Manteb Soedarsono, yang pernah belajar kepada Ki Nartosabdo di Solo.

Ia menjelaskan, lirik lagu Genjer-genjer sebenarnya menggambarkan kerukunan sepasang suami istri yang sedang memetik daun genjer-genjer untuk dijadikan hidangan makan di rumah.

"Jika lagu ini lantas dikaitkan dengan peristiwa G-30-S PKI, itu salah orang itu sendiri. Tetapi yang jelas, lirik lagu tersebut hanya menggambarkan kerukunan hidup sepasang suami isteri," ujarnya.


Terlepas dari kontroversi lagu tersebut, Ki Nartosabdo telah meninggalkan banyak pembaruan dalam seni perkeliran, pedalangan dan karawitan Jawa. Rekan-rekannya pun mengakui bahwa beliau merupakan dalang terbaik yang pernah dilahirkan.


Beberapa saat sebelum Ki Nartosabdo wafat, beliau menciptakan sebuah gendhing yang ia beri judul Lelayu (kematian). Ki Nartosabdo wafat pada tanggal 7 Oktober 1985 dalam usia 60 tahun. Lelayu pulalah yang mengiringi jenazah sang maestro ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Semarang.


Walau jasadnya sudah terkubur tanah, namun karya-karya Ki Nartosabdo tak lekang dimakan usia. Semua bisa menikmati, bukan saja masyarakat Jawa tapi seluruh masyarakat Indonesia. Karena Ki Nartosabdo bukan hanya seorang dalang, ia seorang penggubah, pencipta lagu dan gendhing-gendhing Jawa. Seorang penghibur yang lengkap dan mumpuni. Seorang troubadour.
(Imung Murtiyoso, September 2007)

Friday, August 31, 2007

The Spider and The Fly



Bukan lagu milik The Rolling Stones

Bukan pula puisi Mary Howitt
Bukan untaian metafora
Bukan pula Kusni Kasdut yang konon mampu merayap

Tapi jiwa-jiwa pemberani seka keringat menguap

Bukan Alain Robert si Manusia Laba-laba
Namun hanya sedikit orang yang mau dan mampu
Tapi banyak mengganggap sebagai tontonan lucu

Pengorbanan tak sebanding dengan yang didapat
Kaca, sekat, debu pekat-melekat habis disikat


Sang Laba-laba dan sang lalat terus berkhitmad
Biar badan terasa pucat tapi kerja tetap dinikmat
Adakah anak-anak tahu perjuangan ayahnya
I
stri merelakan pergi demi remah upah (*)




Temen-temen liat dong bapak gue pemberani
Tuh liat sekarang dia lagi ada di langit
Bersihin kaca-kaca cuman pake tali doang
Nggak takut hujan, petir apalagi angin...



Hebat banget bapak elo kayak laba-laba
Kalo bapak gue pasti nggak berani
Hei liat tuh bapak elo goyang-goyang
Hii serem deh...
Bapak elo harusnya jadi pahlawan ya...

(Imung Murtiyoso, Agustus 2007, photos by ricka)

Wednesday, August 29, 2007

Sindrom nyemplung lubang

Dari jalan Bekasi Timur (kolong bypass Jatinegara ) ke arah Klender motor matic itu udah digebernya. Kecepatannya mungkin mendekati 80 km/jam. Kecepatan yang sungguh tidak dianjurkan dalam keadaan jalanan yang lumayan jamming.

Berhenti di lampu merah di perlintasan kereta api Cipinang Melayu, bapak pengendara Yamaha Nouvo-Z warna merah itu berada tepat sejajar vertikal di depan gue.

Entah alasan apa sang bapak sehingga begitu terburu-buru berkendara, padahal suasana udah gelap. Walaupun dia ngebut, tapi gue usahain motor gue nggak tertinggal jauh dari bapak yang mungkin penggemar motoGP itu. Dari pabrikan motornya mungkin dia pengidola Valentino Rossi.

Enggak tau juga kenapa gue terus buntutin tuh bapak, padahal kalau mau bisa aja gue asepin. Tapi kayaknya ada yang mencegah gue supaya jangan ngelewatin si bapak. Akhirnya gue cuma jaga jarak aja. Yah... sekitar empat meteran deh.

Bener aja, nggak jauh dari stasiun pengisian bensin Cipinang Jagal masih ada lubang bekas banjir awal tahun lalu yang sampai sekarang belon ditambal. Si bapak nggak bisa mengendalikan motornya dan tiba-tiba braaaaghk... ban depannya masuk ke lubang, bapak dan motornya terpental.

Gue yang ada di belakang tuh bapak langsung menghindar dan berhenti. Alhamdulillah gue selamat, tapi si bapak? Kenapa juga dia nggak mau lepasin motornya, akhirnya dia terseret sama motornya ke tengah jalan. Kalau aja dia lepasin kuda besinya, mungkin lecet-lecet doang.

Si bapak tergeletak sama motornya di tengah jalan. Keliatannya nggak bergerak. Syukurnya banyak orang yang menolong. Gue sendiri sempat berhenti dan berdoa dalam hari mudah-mudahan si bapak nggak apa-apa dan bisa balik ke rumah ketemu keluarganya.

Gimana nih dinas PU, banyak jalan berlubang kok nggak buru-buru ditambal, apa nunggu korban jatuh lagi?! Terus terang gue sindrom banget sama yang namanya lubang di jalanan, karena gue sendiri udah pernah ngalamin kejeblos lubang. Mau tau ceritanya?

Here the story: Ceritanya pas gue pulang kuliah dulu, sama temen gue yang namanya Romi lagi menginvestigasi kasus affair antara dosen (...lupa tuh namanya) sama Fitri, teman satu kelas. (Romi, you ought to remember this!)

Ini adalah a true story antara Romi sama Fitri (... bukan Juli), karena gue paham kalo Fitri ini kesengsem berat sama Romi. Tapi Romi jual mahal meskipun sang putri udah mati-matian cari perhatian sama bapak yang sekarang udah punya dua anak ini.

Itulah kepongahan si Romi, meskipun dalam hatinya dia sebenarnya juga demen Fitri, tapi masih aja lagaknya ala Don Juan, senengnya 'ngegantung' harapan cewek-cewek.

Sore itu gue sama Romi mengamati sepak-terjang Fitri dan dosen berkumis itu. Pemantauan dilakukan dari jauh. Kalau pernah baca 'Rahasia di Pulau Kirin'-nya Lima Sekawan karya Enyd Blyton, kayaknya yang gue sama Romi kerjain sekarang nggak beda. Maksudnya nggak beda jaraknya antara langit dan bumi gitu.

Penantian selama 30 menit akhirnya berbuah hasil, Fitri keluar dengan anggunnya dari gerbang kampus. Terus menyeberangi empat lajur jalan raya. Pas di depan halte dia nggak langsung naik kendaraan umum. Dia cuma duduk dan sebentar-sebentar berdiri gelisah sambil terus ngeliat jam.

Sejurus kemudian sebuah Daihatsu Taft merah menepi pelan. Gue sama Romi semakin semangat aja melakukan perburuan ini. Kita yakin banget tuh mobilnya dosen mata kuliah 'Propanda' di kampus kita. Tak lama mobil berlalu dan Fitri-pun lenyap dari pandangan.

Romi kasih instruksi untuk ngejar Taft merah itu. Die langsung nyemplak ke skuter gue. Aksi pengejaran agen partikelir dimulai. Taft menderu jauh meninggalkan skuter yang cuma berkekuatan 150 cc. Cuma sepersepuluh dari kekuatan four wheel drive itu.

Andai saja ada produser film yang lewat, mungkin kisah pengejaran ala Chase ini patut diangkat ke layar lebar. He... he... maaf ini lagi mengkhayal aja.

Sore menjelang, adzan magrib juga udah terdengar, tapi 'tim buser' terus mengejar target. Dari jauh keliatan mobil menuju by pass dan berbelok ke arah Halim.

Gas skuter sudah dibejek sampai mentok, namun target makin menjauh. Terang aja nggak kekejar... emang sejak kapan motor dengan cc standar --100/150-- bisa ngalahin larinya mobil.


Akhirnya kengototan dan keusilan mengejar target berbuah petaka. Di jalur lambat nggak jauh dari pintu masuk tol Kebon Nanas, lubang yang ter-cover air comberan menjerumuskan skuter, gue sama Romi.

Skuter keluaran
1984 itu terlempar sejauh 10 puluh meter. Gue dan Romi juga sukses terpelanting. Gue yang paling parah, semua pergelangan kaki dan tangan gue berdarah-darah dan jempol tangan kayaknya mau patah.

Jaket, celana robek abis. Sepatu jebol jahitannya. Yang gue sesalin itu, jeans Levi's 501 kiriman sepupu gue dari LA juga robek di lutut dan pantatnya. Nggak bisa dipake lagi, boro-boro bisa kebeli.


Sembari pringas-pringis Romi nyamperin gue, dia cuma lecet-lecet doang. Untungya skuter udah dipinggirin sama abang yang jualan rokok. Jadi nggak ngalangin kendaraan yang dibelakangnya. Terima kasih bang!

Gue cek tuas koplingnya patah, lampu depan ancur, bodinya sebagian penyok, tapi rem masih jalan. Meski menahan sakit, gue sama Romi bisa juga ketawa ngakak. Ngetawain kekonyolan kita.


Meski skuter cuma bisa dimasukin gigi-1 doang, akhirnya gue, Romi bisa juga pulang. Kali ini Romi mengambilalih kemudi. Gue jadi navigator. Bukan navigator deh... tapi boncenger. Romi nganterin gue dulu, baru die pulang ke rumahnya di Kalibata. -- End of story --

Sejak kejadian itu dan ngeliat langsung bagaimana si bapak nyemplung ke lubang, kayaknya sekarang hati gue ngerasa was-was aja kalo lihat lubang di jalan. Was-was, takut-takut gue mengidap penyakit baru: 'sindrom nyemplung lubang'. (Imung Murtiyoso, Agustus 2007)

Monday, August 20, 2007

'Wisata Rohani' ke Masjid Kubah Emas

Sewaktu silaturahmi ke rumah kakak akhir Juli lalu di daerah Beji, Depok terpikir untuk sekalian mengunjungi masjid Kubah Emas.

Ternyata keinginan ini ditanggapi positif oleh istri dan kedua anak saya.
Akhirnya diputuskan berkunjung ke masjid yang berasitektur terbagus di Asia Tenggara itu.

Berbekal tanya sana-sini, akhirnya sampai juga di kompleks masjid yang memiliki areal 70 hektar. Maklum takut nyasar. Kan ada pepatah, malu bertanya sesat di jalan.


Dari kejauhan kubah yang berlapis emas itu sudah memancarkan semburat kuning karena
terkena sinar matahari. Kelelahan selama perjalanan ke lokasi hilang seketika saat melihat pancaran keemasan yang sungguh membuat hati setiap orang yang melihatnya berucap memuji kebesaran Allah SWT.

Keindahan bangunan masjid yang luasnya 8000 m2 dan taman-taman di sekitarn
ya dari jauh sudah terlihat. Kedua anak saya tampaknya sangat enjoy menikmati 'perjalanan wisata rohani' ini, meskipun menuju ke lokasi bangunan masjid cukup jauh dan pada saat tengah hari bolong.

15 menit waktu yang diperlukan menyusuri mulai gerbang hingga ke kompleks masjid ini. Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, saya pun langsung menuju ke tempat wudlu, mengingat tak lama lagi salat Dzuhur akan dimulai. Namun karena pintu masuk antara pria dan wanita berbeda terpaksa saya berpisah dengan istri dan kedua anak saya.


Di dalam masjid saya sangat takjub melihat keindahan interior dan eksteriornya. Pada langit-langit kubah terdapat lukisan langit yang warnanya dapat berubah-ubah sesuai dengan warna langit pada waktu-waktu salat. Hal ini dimungkinkan karena tata cahaya menggunakan teknologi yang terprogram komputer.

Di dasar kubah terdapat cincin yang diberi aksen warna emas seolah menjadi batas cakrawala. Diatasnya ada 33 jendela yang masing-masing tertulis tiga kaligrafi asma Allah SWT, sehingga seluruhnya berjumlah 99. Bilangan yang sama dengan jumlah nama Allah SWT.


Di puncak langit-langit kubah terpampang ornamen kaligrafi berupa tulisan salawat yang terbuat dari lempengan kuningan berlapis emas. Untuk lampu utamanya terbuat dari kristal seberat 2,7 ton berlapis emas yang konon serupa dengan yang ada di masjid S
ultan Oman.

Untuk melapisi dinding masjid yang menampung 8000 jamaah ini, seluruh materialnya menggunakan marmer yang didatangkan langsung dari Turki dan Italia. Sedang pilar-pilar mihrab dibalut dengan marmer porto rose dari Afrika Selatan.

Sayang sekali, keindahan masjid ini menurut saya masih menyisakan sedikit kekurangnyamanan buat pengunjung, pertama adalah dilarangnya anak dibawah usia tujuh tahun memasuki masjid. Saya lihat sendiri bagaimana seorang bapak yang berbaju gamis menghardik anak-anak untuk keluar.


Menurut saya justru anak-anak harus diperkenalkan sejak dini tentang apa itu ma
sjid supaya di kemudian hari mereka akan menjadi pemuda-pemuda yang cinta dengan masjid. Pun tak ada hukum yang melarang anak-anak masuk ke dalam masjid, sepanjang mereka diawasi oleh orang tuanya.

Kedua,
sebagai pengguna kendaraan roda dua tampaknya pengurus masjid tidak memberikan lokasi khusus. Jadi buat pengendara motor mesti jalan lumayan jauh. Saya tidak tahu apakah di hari-hari selain Ahad dan Sabtu pengguna motor bisa parkir di dalam.


Mudah-mudahan para pengurus Islamic Centre Dian Al Mahri bisa mempertimbangkan usulan saya atau pengunjung lainnya, demi kenyamanan dan kekhusukan dalam menjalankan ibadah di masjid ini.


Oh ya... sekedar perlu diketahui, masjid ini sebenarnya bernama Masjid Dian Al-Mahri, namun masyarakat sekitar telanjur menyebutkan dengan masjid kubah emas. Karena me
mang kubahnya eye catching banget.

Diresmikan pada 31 Desember 2006 bertepatan dengan pelaksanaan salat Idul Adha 1427 H oleh Ibu Hj. Dian Juriah Maimun Al Rasyid dan Bapak Drs H Maimun Al Rasyid. Lokasinya di Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok.

Meskipun bukan satu-satunya masjid dengan kubah emas di dunia, karena ada tiga masjid sejenis lainnya di dunia, namun Masjid Dian Al-Mahri tetap saja membuat decak kagum para pengunjungnya.
Ketiga masjid yang memiliki kubah emas lainnya adalah masjid Sultan Omar Ali Saifuddin di Brunei Darussalam, masjid Suneri di Lahore, di Pakistan dan Samarra, Irak.

Usai salat Dzuhur, saya belum juga beranjak, saya masih terpana akan keagungan sang Pencipta melalui keindahan masjid ini. Tapi saya harus keluar, mengingat ratusan pengunjung masih antre untuk menunaikan salah Dzuhur.

Setelah bertemu dengan istri dan anak, kami pun segera meninggalkan masjid kebanggaan masyarakat Depok itu, dengan harapan suatu kali kami akan kembali lagi ke sini. Ke Masjid Kubah Emas.
(Imung Murtiyoso, Agustus 2007)

Wednesday, July 11, 2007

Nasi jamblang Mang Doel patoet dipoedjiken

Ada dua tujuan saya selama masa liburan sekolah ini. Pertama adalah menemani anak-anak menemui kakek-neneknya di Cirebon. Kedua, adalah memburu nasi jamblang di kota pantai ini.

Awalnya adalah sewaktu Pak Bondan meliput aneka kuliner khas Cirebon, maka selama dua hari di kota Udang ini saya sempatkan melakukan pencarian apa-apa yang pernah dicicipi Pak Bondan. Pertama yang saya kunjungi adalah kedai makan khas wong Cerbon, namanya Nasi Jamblang Mang Doel.

Berlokasi di jalan Cipto, nasi jamblang Mang Doel buka tiap hari mulai pukul lima pagi sampai sekitar pukul 12 siang. Biasanya begitu ruko dibuka --kedai Mang Doel menempati sebuah ruko-- maka para penikmat sarapan pagi sudah berjejer antre.

Karena cukup kondang, tidak sedikit para pelintas pantura yang akan menuju atau kembali dari Jawa Tengah atau Jawa Timur menyempatkan mampir ke sini.

Kekhasan sega jamblang adalah daun jati yang digunakan membungkus sekepal nasi putih hangat, dan ada sekitar 10 jenis lauk-pauk yang dihamparkan di meja persegi panjang. Ada tempe goreng, sate kentang, semur daging sapi, hidangan laut dan tak lupa sambal rajangan cabai merah.

Di Mang Doel penyajiannya ala prasmanan, maka pembeli dapat memilih sesuka hati jenis makanan yang disukainya. Disini tidak disediakan meja layaknya rumah makan, cuma ada bangku panjang saling berhadapan. Kayak naik angkot gitu.

Masalah harga jangan kuatir, di Mang Doel kantong anda dijamin nggak bakalan "babak belur". Malah harga semua penganannya sangat masuk akal. Saya bersama keluarga makan sepuasnya disini nggak sampai lima puluh ribu tuch.

Buat yang pertama kali singgah di Cirebon, disarankan hari-hati untuk mencoba nasi jamblang yang dijajakan di tenda-tenda di depan Grage Mall. Mereka akan mengenakan harga lebih untuk sedikit menu. Artinya disitu berlaku "sistem tembak". Inipun pernah saya alami. Maksud hati ingin ke Mang Doel, namun karena sold out, terpaksa saya coba nasi jamblang yang dijajakan di tenda-tenda itu.

Namun harapan saya jauh panggang dari api. Bagaimana mungkin makan bersama anak saya yang masih kecil dengan lauk yang nyaris semuanya dingin dikenakan harga dua puluh tujuh ribu?

Pokoknya untuk menikmati nasi jamblang di Cirebon cuma ada dua tempat: pertama di Mang Doel dan satu lagi di pelabuhan. Untuk yang di pelabuhan terus terang belum pernah saya singgahi. Menurut cerita dari famili nasi jamblang disini juga top markotop.

Namun bagi saya, Mang Doel masih menempati rangking teratas dalam kuliner di kota paling timur Jawa Barat ini. Karena selain enak, murah dan bersih. Nasi jamblang Mang Doel-pun kabarnya banyak disinggahi pejabat-pejabat dari Jakarta. Sungguh nasi jamblang yang patoet dipoedjiken. (Imung Murtiyoso, Juli 2007, photo by tiaaja)

Satpol PP vs pedagang kaki lima, siapa menang?


(Maaf sebelumnya, bukan maksud saya mengipas-ngipasi keadaan. Cuma mau sedikit bercerita soal pengalaman yang saya alami, soal kesemrawutan di sekitar stasiun Jatinegara. Karena kondisi di kawasan tersebut memang sering membuat jengkel para pengguna jalan)

....
Mengamati sepak terjang para pedagang kakilima dan petugas satpol PP Pemda DKI di sepanjang jalan Bekasi Timur, tepatnya mulai dari depan stasiun Jatinegara hingga perempatan lampu merah arah Klender layaknya menonton serial televisi Tom and Jerry.


Tom diilustrasikan sebagai petugas satpol PP dan Jerry sebagai pedagang kaki lima (PKL).

Bilamana Tom hadir, maka Jerry tak akan menampakkan batang hidungnya, namun bila kendaraan operasional Tom tidak terlihat nongkrong disitu, itu artinya Jerry akan mengadu nasib lagi dengan berdagang.

Saling kejar, baku umpat merupakan pemandangan biasa tatkala operasi bersandi "Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat" tersebut digelar. Skuad Tom yang didukung oleh puluhan armada operasional yang warnanya senada dengan seragam, biasanya langsung mengambilalih lokasi sebelum diduduki kelompok Jerry.

Untuk beberapa hari kubu Tom sempat leading menguasai target operasi. Ini ditandai dengan tidak atau belum munculnya kelompok Jerry. Namun Jerry cs langsung sigap menggelar dagangan saat deru mobil Tom perlahan meninggalkan medan pertempuran.

Lucu! Memang lucu. Jenis olah raga petak-umpet yang sering dimainkan anak-anak zaman dulu kini hidup lagi seiring munculnya para pedagang kakilima di tempat-tempat yang memang dilarang untuk berjualan. Salah satunya ya.. di kawasan Jatinegara ini.

Publik pengguna jalan yang tiap hari melintasi wilayah ini, memang dibuat kesal oleh kelompok tikus putih ini. Hampir separuh ruas jalan habis digunakan buat menjajakan dagangannya. Belum lagi metromini dan mikrolet yang "ngetem" sesuka hati menunggu "sewa" yang biasanya turun dari KRL/kereta api.

Kantor polisi, atau tepatnya posko polisi yang berhadapan dengan stasiun KA bersejarah ini pun tak berdaya menghadapi para pengemudi plat kuning yang menebarkan polusi suara dan udara. Posko bahkan sering tertutupi oleh "rimbunnya" taksi, bajaj dan kedai-kedai makan yang justru "direstui" untuk parkir disitu.

Kembali ke ... perseteruan Tom dan Jerry.
Kegagahan para punggawa Tom ternyata nggak sebanding dengan hasil kerjanya. Terbukti, dalam adu kuat "nongkrongin" medan, kelompok Jerry lebih militan dibanding Tom.

Intelijen Jerry lebih akurat. Mereka tahu, kapan Tom datang, kapan akan pergi serta jumlah kekuatan yang dikerahkan. Jerry paham betul peta kekuatan kelompok kucing berseragam itu.

Entah instruksi dari atasan yang sudah selesai, atau setoran dari kelompok Jerry mulai lancar, lama kelamaan Tom menjadi tidak betah dan gerah bertahan di tempat itu. Tugas penjagaan yang awalnya (mungkin) berkelanjutan, tak sampai sebulan selesai sudah.

Menghadapi Tom, kelompok Jerry berhasil menerapkan strategi hit and run. Yang dalam bahasa mereka diartikan sebagai strategi "nongol-kabur".
Beda sekali dengan tak-tik kelompok Tom yang mengandalkan strategi seek and destroy. Strategi tangkap dan segera angkut ke truk.

Biasanya dalam sebuah operasi strategis, Tom menyertakan pula kendaraan truk/semi truk di jejeran paling belakang dari armada mereka.


Kalau Jerry berjaya, ini artinya kelengangan dan kenikmatan berkendara di sepanjang ruas dua arah itu akan pupus. Ditandai kalahnya Tom melawan Jerry. Tom yang yang didukung oleh para petinggi ibukota dan glontoran dana, nyatanya harus rela angkat-kaki dari kawasan itu.

Kini, Jerry dan kelompoknya kembali menduduki benefit center yang pernah mereka kuasai. Efeknya kemacetan muncul lagi, namun Jerry tak peduli, ia merasa sudah memenuhi "kewajiban-kewajiban"-nya kepada para kolega Tom. "Kewajiban" yang membuat Jerry kini bisa tenang dalam berniaga.

Jerry dan kelompoknya kembali memacetkan jalan dengan gerobak dan lapak berisi barang dagangan. Meski beralasan mencari nafkah dan menciptakan lapangan kerja, Jerry telah merugikan hak orang lain. Hak para pengguna jalan. (Imung Murtiyoso, Juli 2007)

Monday, June 11, 2007

Mars Keluarga Berencana dan kenangan tempo doeloe

Sepulang dari nguli (baca: cari nafkah) yang lumayan gempor, biasanya gue langsung mandi disambung salat maghrib (kalo masih ada waktu) dan ditutup makan malam seadanya, kalo adanya nasi ya... makan nasi doang.

Sebetulnya bukan kerja di kantor yang bikin badan gue ngeretek tapi itu loh traffic jam di Jakarta yang laknatullah bikin semua badan kerasa digebukin. Tau sendiri dong, keadaan Jakarta pas jam pulang kantor. Macet, semrawut, polusi, belum lagi kalo ngeliat ulah
supir angkutan umum. Bikin gondok sampai ke ubun-ubun.

Biasanya, ba'da makan malam tuh saat-saat yang paling membahagiakan. Ngelurusin badan di teras samping rumah ditemanin angin sepoi-sepoi, sawang-sinawang ngitungin bintang di langit sambil bercanda sama kedua anak gue.

Nggak sengaja tadi malam iseng-iseng pasang head set nyetel radio via ponsel cari gelombang FM. Eh... yang pertama tertangkap adalah siaran w
arta berita RRI jam delapan malam. Dalam hati pengen juga sekali-kali dengerin saluran radio pemerintah. Nggak lama kemudian siaran berita selesai.

Nah awalnya dari sini, gue sangat takjub --lebih tepat heran--. Apa pasal? Selesai warta berita ternyata ada jingle kampanye program pemerintah yang bikin pikiran gue terpaksa reminisce about my childhood. Ingak-ingak... ting. Itu Mars Keluarga Berencana. Gila asli jadul banget!

Gue nikmatin mars itu sampai selesai, kayaknya gue lagi masuk lorong waktu.
Lorong yang mengantar gue kembali 30 tahun ke belakang. Itu mars jaman orde baru yang sampai sekarang masih setia aja disetel RRI. Terus terang kalo gue dengerin mars keluarga berencana (KB), gue jadi haru banget sama nih lagu.

Inget masih SD. Kalo pas lagi belajar, gue ditemenin sama radio dua band yang pake dua batere. Mars KB ini yang gue dengerin setiap malam. Kalau di TVRI mungkin lagu Garuda Pancasila yang juga ditayangin pas udahan siaran warta berita.

Waktu itu pemerintah emang lagi gencar-gencarnya mengkampanyekan gerakan keluarga berencana, nah... salah satu alat yang paling efektif adalah radio.

Karena saat itu televisi belum banyak jumlahnya, jadi radio adalah piranti mujarab buat pengantar pesan-pesan pemerintah. Radio juga satu-satunya alat komunikasi dan hiburan yang paling murah dan praktis buat masyarakat.

Kampanye KB yang dicanangkan tahun 70'an sampai sekarang masih ada, namun gaungnya enggak sedahsyat di era orde baru. Menjamurnya radio dan televisi swasta di tanah air, enggak lagi menjadikan masyarakat sebagai pirsawan tunggal buat TVRI ataupun RRI. Lagu bertema nasionalisme yang saban hari digelorakan RRI/TVRI pun kini perlahan mulai dilupakan orang.

Bayangkan, sekarang stasiun tv sama pemancar radio jumlahnya udah ratusan. Masyarakat tinggal putar channel atau gelombang. Zonder iuran dan embel-embel pesan pemerintah. Karena undang-undang udah kasih izin setiap orang/perusahaan buat bikin stasiun televisi atau broadcast.


Namun, nggak sedikit juga loh... para pirsawan yang tetap loyal sama TVRI/RRI. Mereka ngelihat bukan dari bagus-jeleknya sinetron. Bukan dari banyaknya program yang ditampilkan. Tapi dari perjalanan panjang dua lembaga pemerintah itu. Perjalanan suka-duka. Bahagia dan haru.


Banyak siaran jadul RRI yang masih gue inget, kayak obrolan pagi Bang Madi si tukang sado dan mpok Ani penjual gado-gado. Terus... siaran pandangan mata pertandingan sepak bola era perserikatan oleh (alm) Sambas. Ada banyak lagi deh...

Jadi menurut gue, kenangan nggak melulu muncul di tempat-tempat plesiran atau saat nonton bioskop. Menyimak Mars Keluarga Berencana ternyata bisa juga ngingatken gue ke jaman doeloe.

Keluarga Berencana sudah waktunya

Janganlah diragukan lagi
Keluarga Berencana besar maknanya
Untuk hari depan nan jaya

Putra-putri yang sehat
Cerdas dan kuat
Kan menjadi harapan bangsa
Ayah-ibu bahagia rukun raharja
Rumah tangga aman sentosa...

(Imung Murtiyoso, Juni 2007)